Beranda > Al-Habib Ahmad Anis bin Hasan bin Shahab > Al Habib Ahmad Anis bin Hasan bin Shahab

Al Habib Ahmad Anis bin Hasan bin Shahab

Al – Habib Ahmad Anis bin Hasan bin Shahab lahir di kota Surabaya, tepatnya tanggal 12 Ramadhan 1358 H / 21 Agustus 1937 M.Al – Habib Ahmad Anis, yang semasa hidupnya lebih dikenal dengan sapaan Ustadz Anis, adalah putra ke dua pasangan Al – Habib Hasan bin Husein Bin Shahab dan Syarifah ‘Aisyah binti Husein Ba’bud.

Ayahnya adalah salah seorang ulama yang dikenal dengan kefakihannya dan sifat kesabarannya.Sedangkan ibundanya adalah adik kandung Al – Habib Muhammad bin Husein Ba’bud , pendiri Pondok Pesantren Daar An – Nasyien Lawang.Berawal dari lingkungan keluarga yang sangat agamais inilah kepribadian Habib Anis Shahab terbentuk.Al – Habib Anis belajar ilmu – ilmu agama kepada ayahnya sejak masa kecilnya hingga beliau beranjak remaja di kota Bondowoso.Setelah ayahnya meninggal dunia beliau melanjutkan aktivitasnya menuntut ilmu – ilmu agama kepada pamandanya yaitu Al – Habib Muhammad Husein Ba’bud di kota Lawang.Beliau juga pernah mengenyam pendidikan umum hingga kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang.Namun masa kuliahnya itu hanya sempat berjalan beberapa semester.Sepeninggal ayahnya pada tahun 1960,Habib Anis menjadi tulang punggung keluarga, yang terdiri dari seorang ibu dan tujuh saudara kandungnya.Ustadz Anis merupakan gambaran seorang anak yang sangat taat dan berbakti  kepada Ibunya, bahkan beliau selalu menyerahkan seluruh hasil kerjanya selama sebulan kepada sang Ibu.

Diceritakan pula bahwa beliau adalah seorang yang dekat dengan orang shalih dan cinta pada para ulama.Begitupun terhadap para salafus shalih,orang – orang shalih tedahulu.Dan setiap hari beliau tak penah lepas membaca Surah Ya – Sin, Surah Tabarak ( Al – Mulk ) dan tahlil yang ditujukan kepada orang tua, para awliya, kerabat sanak family dan sahabat – sahabatnya dan kebiasaan ini beliau tularkan kepada para santrinya hingga saat ini.

Habib Anis adalah seseorang yang gigih dalam dalam berdakwah.Sejak usia muda,ia telah berkeliling untuk berdakwah dan mengajar,baik di tengah – tengah kota maupun pelosok – pelosok desa beliau lakukan.Beliau mengawali aktivitas dakwahnya dari keadaan yang sangat sederhana,tidak jarang beliau berjalan berpuluh – puluh kilometer dalam keadaan gelap gulita dengan hanya membawa sebuah obor.Dalam keadaan sakit semangatnya dalam berdakwah tidak berkurang dan saya masih ingat pada saat peletakan batu pertama pemugaran Masjid Jami’ Babussalam kota Lawang,waktu itu beliau dalam keadaan sakit akan tetapi beliau tetap hadir untuk menemui seluruh santrinya.Beliau sangat dikenal luas memiliki peranan sangat besar dalam syiar Islam,peran pentingnya tecatat pada sekita 50 pembangunan sarana agama di kota Lawang dan sekitarnya dan beliau selalu di garis depan.Untuk pembangunan sarana agama tesebut sebagian dari harta beliau sendiri dan beliau lakukan secara sembunyi – sembunyi tanpa sepengetahuan keluarga beliau.Setelah beliau wafat keluargany baru mengetahui begitu banyak sarana agama yang telah berdiri,ternyata tidak lepas dari peranan penting Ustadz Anis.

Majelis yang paling dicintainya majelis yang secara rutin beliau selenggarakan setiap Ahad Pagi.Pada awalnya Majelis ini adalah ditujukan untuk mengajar ketiga adik beliau yaitu Habib Husein,Habib Idrus dan Habib Abdullah di kediaman Ibunda beliau.Seiring perkembangan waktu satu demi satu berdatanganlah orang – orang lainnya mengikuti majelis tersebut sehingga rumah Ibunda  beliau tidak menampung,Dengan izin Allah SWT,suatu hari Majelis ini dipindahkan ke Masjid Jami’ Babussalam – Lawang.

Dalam aktivitas mengajarnya, beliau adalah figur pengajar yang sangat santun kepada murid – muridnya.Beliau mencintai murid – muridnya tanpa sedikit memandang status sosial mereka,perhatian beliau juga sangat besar kepada murid – muridnya,hingga beliau hafal dengan seluruh muridnya.Bila ada murid yang tidak di majelis tersebut belaiu selalu menanyakan perihal ketidak hadiran muridnya tersebut.Selain beliau santun juga berwibawa dan sangat berpengaruh di tengah – tengah masyarakat.

Habib Anis juga dengan ahli dzikir, dalam keadaan dan kondisi apapun,lisannya selalu dibasahi untaian kalimat dzikirullah.Dalam sehari semalam secara rutin beliau membaca sekitar 30 macam wirid dan dzikir yang terus beliau jaga secara istiqamah hingga akhir hayat.Beliau juga sosok yang dapat dijadikan teladan dalam hal kebiasaan membaca.Di sela – sela kesibukannya beliau masih bisa meluangkan waktu untuk membaca.

Di suatu keheningan Shubuh yang tenang Habib Anis mengambil air wudhu,berpakaian rapi, lengkap dengan wewangian dan kopiah yang biasa dikenakannya.Sebelum sempat menghadap Allah SWT untuk menunaikan shalat Shubuh,Sang Khaliq berketetapan untuk lebih dulu menjemput Habib Anis.Hari itu tepatnya pada tanggal 5 Sya’ban 1428 H / 19 Agustus 2007,Al – Habib Ahmad Anis bin Hasan bin Shahab meninggalkan dunia yang fana ini,proses sakaratul mautnya begitu ringan dan sangat cepat,hingga pihak keluarga pun sempat tidak menyadarinya.

Pada saat pemakamannya,tidak kurang dari sepuluh ribuh orang yang mengantarkan jenazahnya menuju tempat peristirahatannya yang terakhir.Para pelayat yang hadir saat itu dari Pulau Jawa dan luar Jawa.Beberapa hari menjelang wafat pada suatu malam beliau bermimpi masuk ke rumah Rasulullah SAW.Beliau menceritakan impiannya itu kepada seseorang dan menakwilkannya bahwa dirinya insya’ Allah telah aman dalam naungan Rasulullah SAW datuknya dan kecintaanya.

Setelah berlalu waktu tiga pekan sejak wafatnya,seseorang datang kepada keluarga Habib Anis dan bercerita bahwa malam sebelumnya ia bermimpi bertemu Habib Anis.Dalam impian tersebut Habib Anis mengatakan bahwa Sayyidina Al – Faqih Al – Muqaddam datang kepadanya untuk membantu mempermudah hingga ia merasakan proses sakaratul maut yang dialaminya sangat baik dan mudah.Semua itu adalah berkah dari Rasulullah SAW dan Sayyidina Al – Faqih Al – Muqadam, kata Habib Anis dalam impian orang tersebut.

Semoga amaliyah di alam dunia digantikan dengan kebahagian di negeri akhirat dan dikumpulkan bersama Rasulullah SAW dan Sayyidina Al – Faqih Al – Muqadam dan para pendahulunya yang sangat beliau cintai dalam hidupnya.Begitu pun teladan dan semua yang diajarkannya semoga membawa manfaat bagi kita semua,amin.

(Disadur dari Majalah ALKISAH No.26/15 – 28 Des.2008 yang ditulis oleh Hasan bin Husein Shahab)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: